Cerpen Remaja ~ Punguk Perindu Bulan

Part 1
Punguk Perindu Bulan

"Me e e.. Me e e... Ouuooo... Ouuu u u u.." Suara sember yang menyanyikan lagu berjudul Me dari Taylor Swift itu seolah memenuhi ruang udara yang ada dalam mobil  keluaran tahun 2008 yang tengah melaju di jalan raya. Mobil itu tengah menembus jalanan kota yang agak sedikit macet. Hari ini sedikit macet dikarenakan hari ini merupakan hari pertama dimana sekolah memulai kegiatan belajar mengajar kembali setelah libur panjang beberapa waktu lalu. Di dalam mobil tersebut 2 orang perempuan tengah memburu waktu untuk segera sampai di tempat yang mereka ingin tuju. Seorang kakak yang terlihat gelisah dan sedikit panik karena takut telat untuk bekerja, merasa terganggu dengan si adik yang bernyanyi  di dalam mobil. 
"Dek, jangan berisik ah.. Makin buat mbak nggak karuan nih. Udah diem aja." Pinta si kakak.
"Apaan sih mbak, udahlah santai aja. Kalo panik malah stress lo. Me e e,,, Uuuu u u u...." Kata si adik sembari melanjutkan menyanyi.
"Haduuuh, kamu tuh ya polusi suara aja. Mana ada coba lagu yang ouuuoo oouuoo, ngaco banget, udah suara bikin sakit kuping lagi."
"Hiih, kaya suara mbak bagus aja. Wong sama-sama sember kok"
Kakak beradik tersebut terus berdebat sampai mereka tiba di depan sebuah gerbang sekolah. 
"Ya udah cepet turun!" Perintah si kakak.
"Nggak ah, hehe." 
"Heeeh, nanti mbak telat loh, cepetan turun dek!!"
"Tambahin uang jajannya dulu."
"Utiiii!!!! Turun nggak." 
"Iya iya, galak amat." Ucap si adik sambil membuka pintu mobil.
"Hayoo, nggak salim!!" 
"Hehe, iya, lupa." 
Setelah si adik berpamitan dengan si kakak dia segera masuk ke wilayah lingkungan sekolah. Sambil menghirup udara, dia menikmati kebebasan yang baru saja dia dapatkan di sekolah ini. MPLS yang berlangsung selama seminggu di pekan lalu sungguh menyiksanya dan membuatnya berasa seperti tahanan yang tengah menerima hukuman di dalam bui. Dengan tibanya hari ini, dia merasa seperti tengah merasakan kelulusan yang sebenarnya. Sambil berjalan menuju kelasnya dia mengingat-ingat nama teman yang sempat berkenalan dengannya beberapa hati lalu.
"Yang tinggi putih itu kalo nggak salah Veo, trus yang pinter selalu jawab pertanyaan itu siapa ya? Trus yang bentuk badannya ideal, bagus, cantik siapa ya? Ih, kok lupa sih." 
Dia terus mengingat ingat sampai tak sadar bahwa waktu bel bunyi masuk kurang 5 menit. Saat dia tengah melintas di depan kantor guru dia kaget karena melihat beberapa guru sudah mulai keluar kantor, lalu dia melihat sekeliling, dan dia juga melihat siswa siswi yang berada di luar kelas pun sudah mulai sedikit. Barulah dia melihat jam dan ternyata sebentar lagi masuk. Dengan berlari dia segera menuju kelas. Setelah sampai di dalam kelas dia melihat semua tempat duduk sudah diduduki siswa dan ditandai dengan tas. Dia pun berkeliling kelas untuk memastikan apakah semua bangku sudah terisi atau belum. Dan ternyata semua sudah terisi. Hanya satu tempat duduk yang masih kosong, tapi itu berada di pojok kanan paling depan tepat di depan meja guru. Dia pun dengan langkah ragu meletakkan tasnya di kursi tersebut. Tiba-tiba seorang siswa laki-laki yang berada di belakang tempat duduknya seolah memberi informasi horror kepadanya.
"Eh, hati-hati ya lu disitu. Gurunya galak banget." Ucap siswa laki-laki tersebut dengan mimik wajah seolah-olah takut.
"Eh, emang iya ya?" Tanyanya sedikit takut.
Tiba-tiba dari belakang ada yang menyentuh pundaknya.
"Halo, boleh kenalan?" Seorang siswi cantik dengan tampilan sederhana tapi tampak elegan menjulurkan tangannya tanda ingin mengajak salaman.
"Hai... Boleh kok"
"Aku Vinezie, biasanya dipanggil Vinez. Kalo kamu?" Tanya siswi yang bernama Vinez tersebut.
"A a akuu, aku Taluti, dipanggilnya bisa Uti atau kalo kakakku kadang manggilnya Tali, hehe" ucap Uti sedikit malu plus sedikit merasa minder dengan Vinez. Karena Vinez inilah yang Uti maksud temannya yang pintar dan berani itu. Yang selalu berani dan benar dalam menjawab pertanyaan. Ditambah lagi tampilan Vinez yang sederhana tapi terkesan wah, membuat Uti semakin merasa tak percaya diri saat berada di samping Vinez.
"Oh, unik ya nama kamu Uti. Kamu dari mana Uti?" 
"Aku dari luar kota Vinez, trus karena kakak aku kerja di kota ini, akhirnya aku ikut tinggal di kota ini dan SMA di sini."
"Oh gitu. Aku kenalin temen-temen aku yuk Uti! " Ajak Vinez dengan menggandeng tangan Uti.
"Guys, aku ada temen baru nih." Ucap Vinez kepada teman-temannya sambil menatap Uti dan sesekali mengarahkan pandangannya ke kelas bagian belakang.
"Ha ha aii" Sapa Uti malu-malu sedikit takut karena teman-teman Vinez terlihat seperti tidak jauh dengan Vinez. 
"Nah, Uti yang ini namanya Tezhasyi kamu bisa panggil shezi dan ini Laveo kamu bisa panggil Veo." Ucap Vinez memperkenalkan teman-temannya.
"Hai Shezi.."
Shezi hanya tersenyum datar.
"Hai Veo... Emm, Veo kamu masih inget aku kan? Aku yang kemarin minjem pulpen kamu."
"Hai, sorry ya.. Kayaknya aku nggak inget deh" ucap Veo dengan senyum paksanya.
Tok tok tok, di pintu seorang laki laki yang terlihat muda dan keren mengetok pintu seolah  tengah memberi sinyal bahwa sudah saatnya siswa siswi duduk di tempat duduknya dikarenakan waktu masuk sudah tiba. Siswa siswi pun segera duduk di bangkunya masing-masing. Vinez yang duduk agak jauh di samping kiri Uti tampak memberi kode kepada Uti, agar Uti tidak takut. 
"Hai guys, wuzzup.." Ucap laki-laki itu.
Para siswa hanya diam bengong melihat laki-laki itu. Dalam hati Uti membatin "Guru gaul nih".
"Kenapa diam? Heran lihat guru model kaya gini? Hahaha"
Para siswa masih diam tak percaya melihat laki-laki itu.
"Oke, kenalkan saya Amzar kalian bisa panggil Mr. Ramz, jangan panggil saya pak karena saya tidak suka dipanggil pak, dan saya adalah wali kelas kalian." Mr. Ramz semakin membuat siswa siswi terdiam. 
Mr. Ramz memperkenalkan serta bercerita sedikit tentang dirinya pada para siswa. Setelah itu dia mengabsen siswa satu persatu. Lalu tibalah saatnya untuk pemilihan pengelola inti kelas. 
"Oke, ladies and gentle man ini saatnya untuk pemilihan para punggawa kelas. So, siapa saja nama yang akan kalian ajukan?" 
"Mr, saya usul Junior" seorang siswi mengusulkan sebuah nama.
"Eh, no Mr... No, jangan saya.. Apaan si lo Ter" Ucap Junior geram pada siswi yang mengusulkan namanya.
"Okay, ada yang usul sebuah nama. Apakah kalian setuju dengan nama Junior?" tanya Mr. Ramz.
Dengan serentak semua menjawab "Setuju Mr..."
Mr. Ramz pun menulis nama itu di whiteboard. 
"So, siapa lagi? Saya butuh 5 nama lagi"
"Mr. kalo  gitu saya usul nama Tera Mr." Usul Junior.
"What? Me? Why?" Protes Tera pada Junior.
"Ya ngapain juga tadi lo ngusulin gue." Ucap Junior kesal.
Mr. Ramz menanyakan pada semua dan semua setuju dengan nama Tera.
"Then?" 
"Saya mr. Saya Vinezie"  Vinez mengajukan dirinya sendiri kepada Mr. Ramz.
Semua anak tampak tak percaya dengan kepercayaan diri Vinez, terutama Uti yang tampak sangat kagum pada Vinez.
Mr. Ramz bertanya ke semua siswa dan semua setuju dengan nama Vinez. Tiba-tiba seseorang mengangkat tangan.
"Selanjutnya saya mr." Seorang siswa berdiri dan mengajukan dirinya.
Sontak mata semua siswa tertuju padanya.
"Siapa namamu?" tanya Mr. Ramz.
"Saya Andrean mr." ucap Andrean sambil menatap Vinez dengan tersenyum.
Vinez yang menyadari itu langsung memalingkan wajahnya dari Andre.
Kembali lagi Mr. Ramz menanyakan pada seluruh siswa kelas dan semua siswa setuju dengan nama Andre. Untuk selanjutnya Vinez mengusulkan nama Shezi dan disetujui semua siswa.
"Okay, ini nama terakhir. Siapa yang akan diusulkan?" tanya Mr. Ramz.
Dengan yakin Vinez mengusulkan seorang siswa.
"Mr. saya mengusulkan Erlangga" Ucap Vinez dengan yakin tapi terlihat agak malu-malu. Vinez juga berjanji di dalam hati bahwa dia akan memberikan suara untuk Erlangga.
Sontak beberapa siswa langsung berkata "Ciee" dengan volume lirih.
"Erlangga.. Semua setuju?"
"Setuju mr..."
Lalu Mr. Ramz menulis nama Erlangga. Andrean tampak terdiam sejenak, lalu dia berbisik pada salah satu temannya dan meminta agar dia memilih Andrean. Andrean juga menyuruh siswa tersebut untuk meminta semua siswa laki-laki lain memilih Andrean dan jangan memilih Erlangga. Dikarenakan Andrean dari SMP secara tidak langsung dianggap  pimpinan oleh teman-temannya, semua siswa laki-laki pun mematuhi perkataan Andrean.
"Guys, kita mulai ya.. Jadi nanti saya akan menerapkan sistem bagi yang mendapat suara terbanyak pertama akan menjadi ketua kelas, terbanyak kedua akan menjadi wakil, terbanyak ketiga akan menjadi sekretaris I, dan terbanyak selanjutnya Sekretaris II, Bendahara I dan Bendahara II. Okay semua pasti paham." 
"Mr. saya ijin ke toilet." Izin Uti pada Mr. Ramz.
"Oke." Ucap Mr. Ramz mengijinkan.
"Baik saya mulai ya.. Untuk nama Junior?"
Beberapa anak mengangkat tangan.
"3 orang siswi memilih. Lalu Tera? 2 orang siswi  yang memilih. Vinez?" 
Terlihat beberapa siswi tampak mengangkat tangannya untuk Vinez. Vinez yang menoleh ke bangku Erlangga berharap mendapat suara dari Erlangga, malah mendapati Erlangga setengah tertidur di atas bangku.
"Okay, Vinez 4 suara dari siswi dan 1 suara dari siswa ya." 
Vinez kaget, siswa? Karena tempat duduk Vinez paling depan, dia langsung menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang memilihnya. Dan ternyata
"1 siswa, Andrean ya."  Ucap Mr. Ramz.
"Selanjutnya, berapa suara untuk Andrean?" 
Saat Mr. Ramz menanyakan itu, semua siswa laki-laki, termasuk Erlangga mengangkat tangan, memilih Andrean. Vinez agak kaget melihat semua siswa laki-laki memilih Andrean, termasuk Erlangga, Vinez kecewa karena Erlangga memilih Andrean. Padahal Vinez menginginkan Erlangga lah yang menjadi ketua, dengan Vinez  wakilnya. Tapi setelah melihat banyak yang memilih Andrean dan sudah pasti bahwa Andreanlah yang akan menjadi ketua kelas, Vinez hanya berharap semoga dirinya tidak menjadi wakil nantinya.
"Untuk selanjutnya, Shezi berapa suara?" 
Beberapa siswi mengangkat tangan. Vinez dengan mata terpejam berharap lebih banyak suara untuk Shezi dari pada suara untuk dirinya. 
"Untuk Shezi, 1.. 2..3...4..?"
Vinez mulai gelisah dan sedikit kecewa. Terjadi pergolakan dalam batinnya. Akankah dia akan tetap memilih Erlan yang sudah tidak mungkin menang atau Shezi agar Shezi mempunyai suara lebih banyak darinya. Tapi Vinez berpikir, dialah yang mengusulkan nama Erlangga, dan jika dia tidak memilih Erlangga untuk apa dia mengusulkan Erlangga. Dan setelah dihitung-hitung mungkin Erlangga lah yang akan mendapat sedikit suara, dan Vinez ingin menjadi bagian dari sedikit suara tersebut.  Pada akhirnya Vinez memutuskan untuk tetap memilih Erlangga dan benar-benar pasrah dengan apa yang terjadi.
"Sudah? Cukup 4 suara untuk Shezi? Atau ada lagi? Okay cukup 4 ya.." 
"Saya sudah kehitung Mr?" Celetuk seorang siswi.
"Sebentar saya hitung lagi. 1.. 2....3..4.. Oh iya, kamu belum. Iya, jadi 5 kamu ya."
Vinez kaget sekaligus merasa sedikit lega. Dia berharap walaupun masih seri itu akan membantunya.
"Yang terakhir untuk Erlangga. Siapa yang akan memberikan suara untuk Erlangga?"
"Saya Mr " Vinez mengangkat tangannya. Dia sedikit menoleh kebelakang melihat ekspresi Erlangga. 
Erlangga diam ekspresinya menunjukkan bahwa Erlangga tidak mengingikan Vinez memberikan suara untuknya. Jika dia berkata mungkin dia akan mengatakan "Untuk apa kamu milih aku Vinez? Percuma, kamu milih pun aku nggak akan menang" mungkin itu yang akan dikatakannya.
"Oke, semua sudah memberikan suara. Dan ini waktu untuk penentuan jabatan. Ada yang seri ya ini, tapi sebentar kok bisa ada yang seri?"
"Permisi pak" Uti masuk ke kelas disambut dengan tatapan berpasang-pasang mata.
"Pak? Ini yang dinamakan antara telinga, otak, dan mulut yang tidak kompak, hmm?" Ucap Mr. Ramz dengan sedikit nada gurau.
"Oh iya, maaf maaf Mr. Amzar, Mr. Ramz" Uti memohon maaf pada wali kelasnya. 
"Oke, kamu tadi di toilet, sehingga menyebabkan kamu belum memberikan suaramu untuk para kandidat. Oke, tidak usah berlama-lama, siapa pilihanmu?"
Para kandidat, terutama Vinez dan Andrean menatap tajam Uti. Dalam hati Vinez berharap agar Uti tak memilihnya, sedangkan Andrean berharap Uti memilih Vinez agar Vinez dapat menjadi wakil Andrean. Uti yang sedikit gugup karena ditatap semua siswa kelas, terutama tatapan tajam kandidat dengan lantang menyebutkan sebuah nama
"Saya memilih teman saya Mr. Teman yang menurut saya sangat baik walaupun kami baru kenal. Dia... Vinezie Mr. saya memilih Vinezie" Ucap Uti sambil menoleh ke arah Vinez dan tersenyum polos.
Vinez hanya pasrah dan membalas senyuman Uti dan menganggukkan kepala seolah berterimakasih karena Uti sudah memilihnya. Padahal sebenarnya dia tidak senang Uti memilihnya.
"Guys, oke. Jadi melalui seberapa banyak suara yang diperoleh maka saya tentukan bahwa untuk tugas ketua kelas akan diemban oleh Andrean, wakil oleh Vinezie, sekretaris I oleh Shezi, sekretaris II oleh Junior, Bendahara I oleh Tera, dan terakhir karena hanya mendapat 1 suara dan itu suara terendah maka, kamu Erlangga, kamu menjabat sebagai Bendahara II" Ucap Mr. Ramz.
"Siap Mr." Balas Erlangga.
Dan akhirnya Vinezlah yang menjadi wakil Andrean. Setelah proses pemilihan pengurus kelas tersebut tibalah waktu istirahat. Mr. Ramz keluar dari kelas setelah bel istirahat berbunyi.
"See you guys" Ucap Mr. Ramz.
"See you too Mr." Ucap semua siswa.
Setelah itu sebagian besar siswa keluar kelas. Uti melihat ke arah Vinez dan dia melihat Vinez seperti orang tanpa harapan.
"Vinez kenapa ya?" Batin Uti.
Para teman Vinez pun menghampirinya dan memeluknya.
"Ulululu tuan putri Vineziezie." Ucap Shezi sambil memeluk Vinez.
"Kenapa kamu She, aku nggak kenapa-napa kok" Ucap Vinez.
"Sayang, aku sama She tahu kok kalo kamu sebenernya nggak mau kan jadi wakilnya Andrean, maunya jadi wakilnya si itu kaaan" Ucap Veo sambil melirik ke bangku Erlangga.
"Eh, nggak ya. Aku seneng kok jadi wakil siapa aja. Lagipula kenapa aku pengen banget jadi wakilnya Erlangga?" Ucap Vinez membela dirinya.
Uti bingung dengan Vinez. Sebenarnya Vinez ini kenapa? Apakah Vinez naksir siswa yang bernama Erlangga? Tapi kok sepertinya dia melakukan pembelaan bahwa dia tidak menyukai Erlangga? Di saat itu juga tiba-tiba datanglah seorang siswi dari luar kelas.
"Helo girls.. Heii ini kenapa si cantik dipeluk-peluk? Vinez are you okay?" Tanya siswi itu.
"Yes. Aku baik-baik aja kok, Ca."
"Kamu pucet Vinezie." 
Shezi melirik ke arah whiteboard diikuti si siswi itu. Dan siswi itu langsung menyadari apa yang sebenarnya terjadi.
"Its okay Vinez. Nggak papa"
"Apaan sih Ca, kaya aku kenapa-napa aja. Orang aku nggak kenapa-napa kok. Oh iya, Uti, kenalin ini Caca, sahabat aku juga. Kelasnya tetanggaan sama kita." 
"Oh, halo Caca, aku Taluti, kamu bisa panggil Uti."
"Hai Uti, salam kenal ya. Kamu kok disitu sendiri, ayo gabung sini dong" Ajak Caca pada Uti. 
Mereka pun ngobrol bersama.
***
"Uti.. Makan Ti.. Tali!!" Teriak seorang wanita pada Uti.
"Iya mbak Taluta Tataa" Ucap Uti sambil menuju meja makan.
"Gimana temen-temen baru kamu, asik nggak?"
"Asik kok mbak, ada dua orang yang kayaknya baik gitu sama aku. Namanya Vinez sama Caca. Mereka ramah banget."
" Temen kamu namanya bagus-bagus ya, kamu nggak minder punya nama Taluti." Ucap mbak Tata menggoda.
"Hiiih mbaaak!!! Mbak juga Taluta, apa bedanya?"
"Ya ya... udah cepet makan" Perintah mbak Tata.
Uti memang hanya tinggal dengan mbak Tata di rumah. Ayahnya bekerja di luar pulau, sedangkan ibunya tinggal bersama suami barunya.
"Ti, habis ini belajar ya.." Perintah mbak Tata.
"Ya elah mbak, besok itu pasti masih perkenalan per mapel lah, mana mungkin langsung pelajaran. Jadwal sama buku pegangan aja belom punya."
"Lha terus? Apa salahnya sih belajar? Belajar kan bisa lewat internet. Lagipula siswa itu kewajibannya belajar. Ya dipenuhin dong kewajibannya!!"
"Hiiih bawel!! Iya iya,, besok belajarnya" 
"Heh, ini anak yaa.."
***
Hari ini adalah hari kedua masuk sekolah. Diantar sang kakak dengan mobil xenia, mungkin akan menjadi rutinitas baru Taluti di pagi hari. 
"Dek, nanti naik ojek online aja ya pulangnya, mbak kayaknya pulang agak lebih sorean dari biasanya." Ucap mbak Tata.
"Iyaa..iya, udah udah sana berangkat!"
"Bye, my sista, love you mumumu", ucap mbak Tata.
Uti hanya melambaikan tangan ke mbak Tata dengan wajah datar. 
Uti pun segera menuju kelasnya. Saat berjalan menuju kelas, tiba-tiba seseorang memanggil namanya.
"Utiiii!!!!" Teriak seseorang itu.
Uti pun segera menoleh ke belakang.
"Eh, Caca.. Halo Caca" Sapa Uti.
"Halo juga Uti, kamu tadi dianter siapa? Mama? Kakak? Atau tante?"
"Itu kakak aku Ca, dia mau berangkat kerja, jadi berangkatnya sekalian sama aku deh"
"Oalah kakak ya. Punya adek nggak? Uti berapa saudara emang?"
"Aku cuma punya kakak Ca, nggak punya adek. Kalo kamu?"
"Aku kakak dari 2 orang adek Ti, kembar."
"Oh, adek kamu kembar ya.. Seru dong."
"Seru apa, ngrusakin barangku mulu."
"Hahaha,, yang sabar ya kakak Caca"
Karena asik berbincang tanpa mereka sadari mereka sudah sampai di pintu kelas Uti. Vinez, Shezi, dan Veo tampak sedang menggerombol di bangku Vinez. Mereka menarik bangku lain dan medekatkannya ke bangku Vinez.
"She, Veo, Ziezie.. Good morning.." Sapa Caca sambil menuju ke mereka.
"Morning baby.." Balas Veo sambil membuka lebar tangan ingin memeluk Caca.
"Sini sini tuan putri duduk di sini ya.." Ucap Shezi sambil menarik bangku Uti dan mendekatkannya disamping bangku Vinez. 
"Eh, She.. Uti kan mau duduk,, kok bangkunya diambil sih." Tegur Vinez.
"Sama aja kali, ini kan juga bangkunya sekolah, sementara dia kan bisa duduk di bangku lain dulu." Ucap Shezi ketus.
Uti hanya diam. Dan mencoba tersenyum menunjukkan dia tidak apa-apa.
"Jangan dong, Uti kamu duduk di bangku kamu sini, biar aku pinjem bangku di belakang kamu. Bangku siapa Vineziezie?"
"Lho nggak papa kok, bangkuku kamu pake aja", ucap Uti.
"Udah, aku pinjem bangku ini aja. Ini bangku siapa Ziezie?" Tanya Caca.
"Bangkunya Bobby tuh, pake aja gak papa" Ucap Vinez.
Caca pun menyeret bangku Bobby dan mendekatkannya ke bangku Vinez, mereka pun ngobrol sebelum  bel masuk berbunyi. Sesaat kemudian bel masuk berbunyi dan Caca segera bergegas pergi ke kelasnya. Sesaat setelah bel berbunyi ada pemberitahuan untuk para ketua kelas beserta wakilnya segera berkumpul. Tiba-tiba Andrean menghampiri Vinez.
"Emm,, Vinez ayo kita kumpul.." Ajak Andrean malu-malu ke Vinez.
"Oh, iya" Ucap Vinez sambil tengak-tengok sekeliling kelas. 
Uti yang memperhatikan Vinez, membatin apakah Vinez mencari Erlangga? Setelah Vinez dan Andrean keluar kelas Uti pun ikut tengak-tengok, dan benar saja Erlangga memang tidak ada.
"Woy, tengak-tengok.. tengak-tengok.. Cari apaan sih?" Tanya seorang siswa kepada Uti.
"Eh, enggak kok.. Emm kamu Bobby kan?"
"Tahu darimana? Vinez?"
"Iya, kenalin aku Taluti, kamu bisa panggil Uti."
"Udah tahu kali."
Mendengar bahwa Bobby sudah mengetahui namanya, Uti langsung tersipu malu, dan agak merasa ge er.
"Bobby, emang guru yang mana sih yang kamu bilang galak? Aku kira yang wali kelas kita itu yang galak"
"Guru fisika, kata kakakku namanya Pak Abrur."
"Segalak apa?"
"Kayaknya harimau bakal lewat. Buktinya saking pada nggak beraninya, sampe nggak ada yang duduk pojok depan pas meja guru kan? Vinez aja yang pinter nggak mau duduk situ kok."
"Kan kalian belum pernah ketemu, nggak bisa dong kalian mengklaim bahwa pak guru itu galak."
"Pak Abrur itu udah terkenal banget di SMPku, kakak-kakak alumni yang mampir ke SMP suka cerita soal kegalakan Pak Abrur."
Selang beberapa menit Erlangga datang. Dan segera merebahkan diri ke tempat duduknya. Erlangga terlihat sangat letih. Uti tak sengaja melihat Erlangga. Dia merasa bahwa jika diperhatikan, Erlangga tampan juga. 
"Pantes aja Vinez kelihatannya kayak naksir Erlangga, ganteng kaya gini kok ternyata." Batin Uti.
Setelah beberapa lama kemudian, Vinez dan Andrean masuk ke kelas membawa beberapa lembar kertas.
"Temen-temen, minta perhatiannya ya...." Teriak Andrean meminta perhatian pada semua.
"Ini jadwal mata pelajaran kita untuk ke depannya. Ambil satu-persatu."
Semua pun langsung maju mengambil jadwal. Vinez yang melihat ke belakang dan menjumpai adanya Erlangga, tampak tersenyum tipis. Setelah mendapat jadwal salah satu siswa menyeletuk.
"Mampus, Pak Abrur jam ketiga"
"Btw ini jam keberapa?" Tanya siswa lain.
"5 menit lagi bakal jam ketiga nih, waduuh matii kita."
Uti yang mendengar percakapan siswa lain itu langsung agak sedikit pucat dan takut.
"Vinez, gimana? Aku takut, nanti ditanya harus jawab apa?" Rengek Uti ke Vinez.
"Tenang Uti, kayaknya belom pelajaran deh nanti, kan baru pertama pertemuan sama Pak Abrur."
Perkataan Vinez sedikit membuat Uti agak lebih tenang. Tapi tiba-tiba..
"Semua duduk di bangkunya masing-masing!!" Suara lantang yang menggelegar memecah kericuhan siswa. Semua siswa pun segera duduk di bangku mereka masing-masing, tak terkecuali Uti.
"Saya guru fisika kalian untuk satu tahun ke depan. Nama saya Abrur dan saya tidak suka basa basi. Untuk mempercepat waktu, langsung saja kita mulai pelajaran." Kata Pak Abrur sambil mengeluarkan spidol untuk menulis di whiteboard.
Sontak semua siswa hanya bisa menelan ludah mendengar ucapan Pak Abrur. Terutama Uti yang  kembali pucat. Uti dan siswa lain tak habis pikir dengan Pak Abrur. Baru saja bertemu, bukannya perkenalan, Pak Abrur lebih memilih untuk langsung memulai  pelajaran. Uti benar-benar gelisah dan cukup panik. Dia takut jika tiba-tiba Pak Abrur bertanya sesuatu padanya, yang notabenenya dia kurang menguasai bidang fisika. 
Di tengah keheningan, Pak Abrur menanyakan sesuatu yang membuat semua siswa mematung.
"Saya tidak peduli apakah kalian sudah menerima buku pegangan atau belum. Karena itu bukan urusan saya. Yang butuh ilmu kalian. Jadi, jika kalian memang benar-benar niat untuk mencari ilmu, sudah pasti ada literatur lain di depan kalian, yang kalian siapkan sendiri tanpa saya suruh. Entah itu kalian beli buku jauh-jauh hari ataupun mencetak dari internet beberapa hari ini. Dan yang saya harapkan, di kelas ini ada yang benar-benar berniat untuk mencari ilmu, bukan hanya sekedar kesini untuk gengsi-gengsian. Jadi, bagi yang berniat mencari ilmu bisa kalian keluarkan buku yang telah kalian siapkan!!"
Semua siswa hanya diam mendengar perintah Pak Abrur.
"Tidak ada yang niat sekolah ya ternyata. Pantas saja, saya kok agak malas masuk ke kelas ini. Lha ternyata muridnya aja gini semua", ucap Pak Abrur dengan nada mengejek. 
Dengan percaya diri, Vinez membuka suara.
"Bapak Abrur, kebetulan saya sudah menyiapkan sebuah buku lain selain buku pegangan dari sekolah untuk pelajaran bapak. Dan hari ini buku tersebut saya bawa", ucap Vinez pada Pak Abrur.
"O, kebetulan", kata Pak Abrur dengan ekspresi wajah yang menyebalkan.
Pak Abrur pun memerintahkan Vinez untuk membuka buku yang telah dia bawa. Dan pelajaran dimulai dengan permulaan yang tidak terlalu sulit. Pertanyaan pun juga tidak terucap dari Pak Abrur. Semua benar-benar berjalan cukup mulus untuk hari ini.
"Akhirnya... Pak Brur keluar juga. Bener-bener kaya patung tadi, nggak gerak samsek", ucap Shezi lega.
"Vineziezie kami tercinta,, terimakasih Zie, berkat kamu kita semua nggak kena marah, nggak kena omel, nggak kena injek, dan nggak kena bully. Thank you Zie zie", ucap Veo dengan memeluk Vinez. 
Uti yang berada di samping Vinez tersenyum melihat Vinez, yang menjadi malaikat siswa satu kelas. Tak lama kemudian terdengar dari speaker kelas terdengar panggilan yang ditujukan untuk ketua dan wakil kelas agar berkumpul. Andreanpun menghampiri Vinez.
"Ibu Vinez, ada panggilan tuh", ucap Andrean dengan wajah penuh senyum.
"Iya", jawab Vinez dengan sedikit senyum paksa.
"Oh iya, Zie, makasih ya tadi udah nyelametin anak-anak sekelas. Jujur aku bangga banget sama kamu" 
"Udah kewajiban aku kok, sebagai bagian dari kelas ini. Ya udah, girls aku duluan ya, ayo Ndre", ucap Vinez yang sebenarnya kesal namun mencoba untuk terlihat ramah.
Setelah Vinez dan Andrean pergi, Shezi dan Veo tanpa mengucap kata pada Uti langsung pergi begitu saja. Tinggallah dikelas hanya ada Uti dan satu siswa lain.
"Kalo nggak ada Vinez, aku ternyata nggak punya temen ya", ucap Uti sedih. Dia pun memutar kepala untuk merenggangkan otot-otot lehernya. Saat kepalanya mengarah ke belakang, dia mendapati seorang siswa tengah tertidur di bangku dengan wajah menghadap ke samping. Setelah Uti amati siswa tersebut, dia mengenali siapa siswa itu.
"Loh, itu kan Erlangga. Ganteng banget Ya Tuhan", batin Uti dengan terus mengamati wajah Erlangga.
***
2 hari setelah pelajaran Pak Abrur, kini tiba saatnya tuk bertemu Pak Abrur kembali. Hari ini sudah dipastikan semua siswa tak ada lagi yang kena marah soal buku pegangan, dikarenakan buku pegangan sudah dibagikan sehari yang lalu. Entah mengapa hari ini Uti datang ke sekolah lebih pagi dari hari-hari sebelumnya.Dengan masih sedikit mengantuk dia terus berjalan menuju ke kelas. Saat tiba di pintu depan kelas, dia mengucek mata dan mendapati sebuah bayangan berada kelas bagian belakang. Sontak dia kaget dan berteriak. 
"Aaaaaaaaa", teriaknya kaget diikuti dengan langkah mundur.
"Eh, Uti"
Terlihat seseorang tengah meletakkan sesuatu di bangku belakang. Uti pun menyipitkan mata untuk memastikan siapakah itu. Dan ternyata setelah diamati, orang tersebut adalah Vinez.
"Vinez?? Kamu ngapain?", tanya Uti penasaran.
Dengan langkah terburu-buru, Vinez segera menuju ke arah Uti. 
"Oh, tadi ini Ti, aku...", Ucap Vinez gugup dengan kata yang tidak konsisten.
"Kenapa?? Itu kamu dibangku belakang ya,, kan itu bangkunya Er"
Belum sempat Uti menyelesaikan ucapannya Vinez sudah memotong.
"Tadi ada kecoa, trus aku kejar. Berhentinya di situ", ucap Vinez dengan cepat.
"Kamu tadi kaya naro sesuatu deh di bangku Erla.."
"Oh, itu tadi ada pensil jatuh dibawah bangku Erlangga. Mungkin itu punya Erlangga, jadi aku taro mejanya"
"Vinez, aku boleh tanya?"
"Hah? Tanya apa?"
"Kamu suka Erlangga ya?"
"Erlangga? Ya enggak lah Ti, Erlangga tuh temen aku sejak SMP. Ya kali aku suka Erlangg", ucap Vinez gugup.
"Oh gitu, aku kira.."  
"Uti udah sarapan? Tumben datengnya pagi banget", ucap Vinez tuk mengalihkan pembicaraan.
Dan tanpa sadar Uti mengikuti pembicaraan Vinez dan melupakan topik pertama.
Jam Pak Abrur pun sudah tiba. Dan dengan langkah meyakinkan, Pak Abrur sudah disambut dengan ketegangan semua siswa. Tanpa basa-basi Pak Abrur segera memulai pelajaran. 20 menit saat  pelajaran semua berjalan sangat mulus, namun di menit 30 tiba-tiba Pak Abrur menanyakan sesuatu.
"Kamu, yang di depan saya coba buktikan bahwa besaran usaha memiliki kesetaraan dengan besaran energi kinetik!! Ucapkan saja nggak usah maju", ucap Pak Abrur pada seorang siswi yang ada di depannya, dan itu adalah Uti.
Uti mematung dan wajahnya sangat pucat. Bagaimana tidak, dia yang tidak tahu dengan apa yang dimaksudkan Pak Abrur hanya terdiam dengan lidah yang membeku. Saat Pak Abrur mulai menuliskan sesuatu di whiteboard, Vinez berbisik pada Uti dan mendektekan jawaban agar Uti dapat menyampaikannya pada Pak Abrur. Untung saja saat pendektean dari Vinez, Pak Abrur terus menulis di whiteboard tanpa melihat ke arah Uti.
"Ya", ucap Pak Abrur singkat, setelah mendengar jawaban Uti. 
Setelah itu Pak Abrur kembali menanyakan sesuatu pada Uti, dan lagi-lagi Vinez mendikte Uti.
2 jam pelajaran Pak Abrur, akhirnya usai. 2 jam yang terasa seperti berabad-abad. Dengan sangat lega dan bahagia Uti mendekat ke arah Vinez dan mengucapkan beribu-ribu terimakasih pada Vinez. Vinez tersenyum dan memeluk Uti. Vinez bilang, karena Vinez telah mengenal Uti, maka Uti adalah teman Vinez. Dan yang namanya teman wajib hukumnya untuk saling membantu. Itulah yang Vinez katakan. Vinez ijin ke kamar mandi pada Uti. Setelah Vinez keluar Shezi dan Veo terlihat saling berbisik dan terus melirik sinis ke arah Uti. Uti benar-benar risih dan perasaannya tak enak. Dia merasa jika Veo dan Shezi sedang membicarakannya.
Uti pun hanya terdiam. Dan saat itu juga terdengan kericuhan di kelas bagian belakang. Dengan penasaran Uti menengok ke belakang. Di dapatinya Bobby sedang berebut sesuatu dengan Junior. Dengan saling mengeluarkan kekuatan Bobby dan Junior berusaha untuk memperebutkan barang tersebut. Adu kekuatanpun dimenangkan oleh Bobby. Segera dibawanya barang itu ke bangkunya yang berada di belakang Uti. Uti pun bertanya pada Bobby.
"Apaan itu Bob?", tanya Uti.
"Cuklat, hehe. Dapet tuh dari Erlan, katanya nemu di meja, trus dianya nggak mau"
Uti terdiam sesaat mendengar ucapan Bobby. Akankah itu yang diletakkan Vinez tadi pagi di bangku Erlangga? Tapi ngapain Vinez ngasih Erlangga Coklat? Kan katanya Vinez nggak suka Erlangga. Batin Uti, menerka-nerka.
Pulang sekolah Uti mendapat pesan dari mbak Tata yang berisi bahwa mbak Tata hari ini pulang malam, sehingga mbak Tata menyuruh Uti pulang naik ojek online. Uti segera menuju ke pagar sekolah dan menyalakan pomselnya tuk memesan ojek. Beberapa menit sebelum Uti membuat pesanan, Vinez, Shezi, Veo, dan Caca berjalan menuju gerbang tempat Uti berdiri. Caca pun memanggil Uti. Mereka saling sapa saat saling bertemu, kecuali Veo dan Shezi. Caca berniat menawarkan tumpangan ke Uti, namun tak berapa lama dia mendapat pesan bahwa akan dijemput dengan motor. Lalu Caca mengusulkan agar Uti lebih baik ikut mobil Shezi dan Veo, karena rumah mereka satu arah. Namun, Shezi dan Veo terus beralasan agar  Uti tidak ikut dengan mereka. Akhirnya, Vinez pun menawarkan tumpangan pada Uti. Uti menolak, karena rumah Vinez bertolak arah dengan rumah Uti, dan jaraknya cukup jauh. Namun Vinez terus memaksa Uti, dan akhirnya Uti pun ikut dengan Vinez. Vinez dan sopirnya mengantar Uti pulang ke rumah. Selama perjalanan, Uti terus berterimakasih ke Vinez. Dengan keramahannya, Vinez malah mengajak ngobrol Uti banyak hal, sampai tak terasa mereka telah tiba. Karena akan ada acara bersama keluarga, Vinez langsung pulang tanpa terlebih dahulu mampir ke rumah Uti. Uti benar-benar sangat kagum dengan Vinez. Dengan kecantikan dan kepintarannya, tak membuat dirinya lupa dengan kebaikan yang memang seharusnya selalu ada di seluruh jiwa raganya. Malam hari, Uti pun menceritakan kebaikan Vinez pada ayah dan kakaknya.
Beberapa hari kemudian, tiba lagi pelajaran Pak Abrur. Hal sama terjadi seperti hari-hari sebelumnya. Pak Abrur kembali bertanya pada Uti. Dan Vinez kembali membantu Uti. Setelah pelajaran usai Uti bertanya pada Vinez, mengapa Vinez tidak duduk di bangku Uti saja? Dengan kecerdasannya, pasti Vinez akan menjawab pertanyaan Pak Abrur dengan mudah. Namun, Vinez berkata bahwa dia tidak siap berhadapan langsung dengan Pak Abrur. Bobby tiba-tiba nimbrung pembicaraan Vinez dan Uti. Dan Bobby juga memberikan informasi bahwa alasan Pak Abrur hanya bertanya pada murid yang ada di depan bangku guru adalah karena penglihatan Pak Abrur kurang baik, jadi agar lebih mudah, dia hanya bertanya pada murid yang ada di depannya.
***
Pekan pun telah berganti. Dan kembali lagi, hari ini jadwal Pak Abrur lagi-lagi menjadi momok bagi semua siswa, terlebih Uti. Namun, Uti tak terlalu takut juga, dikarenakan ada Vinez yang selalu siap membantunya untuk menjawab pertanyaan Pak Abrur. Saat Pak Abrur baru saja membuka spidol, tiba-tiba terdengar suara panggilan ketua beserta wakilnya. Dengan segera, Andrean meminta ijin pada Pak Abrur untuk dirinya dan Vinez. Dengan berat hati Vinez meninggalkan kelas dan terus menghawatirkan Uti. Uti benar-benar tak tahu harus berbuat apa, apalagi dia tidak terlalu akrab dengan teman-teman kelas lain, kecuali Vinez. Dan saat Uti terdiam, tiba-tiba Pak Abrur bertanya sebelum menulis sesuatu di whiteboard.
"Kamu, yang ada di depan saya, coba kamu jawab pertanyaan saya", ucap Pak Abrur yang kemudian membacakan pertanyaan dari buku untuk Uti. Setelah itu Pak Abrur berbalil badan dan menulis di whiteboard.
Uti, terdiam kaku sulit tuk menjawab pertanyaan Pak Abrur. Pak Abrur yang menunggu jawaban Uti sambil menulis di whiteboard terlihat tidak sabar tuk mendengar jawaban dari pertanyaannya.
"Hey, cepet jawab!!!!", ucap  Pak Abrur dengan terus menulis.
Uti semakin pucat dan tak tahu ingin berbicara apa. Namun, tiba-tiba...
"Cepet pindah kebelakang",  perintah seseorang dengan suara berbisik pada Uti.
Uti menoleh dan melihat Erlangga tampak berhati-hati agar Pak Abrur tidak mengetahuinya. Uti bengong tak percaya. Dia benar-benar tak percaya akan kehadiran Erlangga, lalu dia segera pindah ke bangku Erlangga yang ada di belakang. Mungkin karena Erlangga tak belajar, dia pun tak bisa menjawab pertanyaan Pak Abrur, sehingga dia terkena marah dan harus keluar kelas. Sesaat kemudian Vinez dan Andrean berjalan kembali ke kelas dan melihat Erlangga berada di luar kelsas. Vinez dan Erlangga sempat bertatapan selama beberapa detik. Dan saat Vinez akan bertanya pada Erlangga apa yang terjadi, Andrean segera menariknya untuk masuk kelas. 
"Ndre, apasih", protes Vinez.
"Zie, pelajaran Pak Abrur itu penting. Kita nggak boleh ketinggalan okay", ucap Andrean dengan terus menarik Vinez ke kelas. Akhirnya Vinez dan Andrean pun meninggalkan Erlangga sendiri di luar kelas. Saat masuk kelas, Vinez bingung karena tidak menjumpai Uti di bangkunya. Lalu Vinez menjelajahkan pandangannya ke seluruh bagian kelas dari depan sampai belakang. Dan betapa terkejutnya dia mendapati Uti duduk di bangku Erlangga. 
"Kok Uti...", ucap Vinez dengan suara sangat lirih.
Entah rasa cemburu atau apa, dengan kesal Vinez beranggapan bahwa Erlangga berada di luar karena Uti. 
"Erlangga tuh pinter, tapi kenapa bisa keluar? Apa mungkin tadi sempet ditanya Pak Abrur trus dia nggak bisa jawab? Tapi kenapa di tanya? Trus Uti kok di bangku Erlan? Apa mungkin mereka tadi tuker tempat, trus beneran ditanya Pak Abrur, Erlan nggak bisa jawab? Erlan pasti capek banget sampe dia nggak bisa jawab pertanyaan Pak Abrur", batin Vinez dengan rasa kesal pada Uti.  
Setelah Pak Abrur keluar kelas, Erlangga masuk ke dalam kelas dan menuju ke bangkunya diikuti pandangan Vinez yang terus tak terlepas darinya. Setelah sampai di bangkunya, Erlangga tak langsung duduk. Dia memperhatikan Uti yang berbicara di depannya. 
"Erlangga, makasih ya. Maaf gara-gara aku kamu harus dimarahin trus disuruh keluar", ucap Uti penuh rasa bersalah.
"Nggak papa kali, santai aja"
"Tapi kamu tadi kena marah, maaf aku emang nggak jago fisika, maaf banget. Maaf ya, Erlangga, maaf", ucap Uti dengan terus meminta maaf.
"Hahaha, jangan maaf terus, nggak papa kok", ucap Erlangga dengan wajah tanpa beban.
"Aku traktir mau? Sebagai permintaan maaf. Aku nggak enak banget sama kamu, maaf ya"
Saat Erlangga akan menanggapi ucapan Uti, dia sadar bahwa daritadi diperhatikan oleh Vinez. Lalu dia mengucapkan sesuatu pada Uti.
"Nggak usah lah, udahlah santai aja"
"Tapi, Erlangga..."
"Nanti aja, aku kirim pesan", ucap Erlangga berbisik dengan mengkode agar Uti segera pergi dari bangkunya. Uti pun paham dan segera pergi dari bangku Erlangga. Uti menuju bangkunya yang ada di depan. Sebelum dia duduk dia sempat menyapa Vinez.
"Vinez, hai", sapa Uti.
Tanpa membalas dengan sepatah kata, Vinez hanya diam dan sedikit tersenyum paksa, lalu memalingkan wajahnya dari Uti. Uti sempat bingung dengan tingkah laku Vinez yang agak aneh. 
Sepulang sekolah, Uti terus memegang ponsel karena menunggu pesan dari Erlangga. Dari jam 2 sampai jam 4 sore ponsel tak terlepas dari genggaman. Uti terus menunggu pesan dari Erlangga, namun pesan tersebut tak kunjung datang. Dengan terus membayangkan Erlangga dia terus mendekap ponselnya sampai tertidur. Setelah 30 menit tertidur, dia dibangunkan oleh teriakan mbak Tata yang melengking. 
"Utiii!!!!! Bangun woy!! Mandi!! Udah setengah 5 ini!!"
"Ngg..."
"Uti!!! Uti!!!!!"
"Iyaaaa, iiiih. Iya, iya"
Dengan langkah terhuyung-huyung Uti segera menuju ke kamar mandi. Namun, sebelum itu dia mengecek ponselnya untuk melihat apakah sudah ada pesan dari Erlangga atau belum. Dan setelah dilihat, tak ada satu pesanpun yang masuk. Wajah Uti terlihat lesu, lalu dia segera menuju ke kamar mandi. Setelah mandi dia tak lagi memegang ponselnya. Dia menggeletakkan ponselnya begitu saja, karena sudah tak peduli. Ponselnya ia geletakkan begitu saja di atas sofa depan tv, sedangkan dirinya berada di kamar untuk membaca novel. Berhubung esok libur, malam inu dia hanya bersantai di dalam kamar.
Pukul 7 malam, saat dia ingin ke kamar mandi, terlihat mbak Tata tersenyum sambil bermain ponsel.  Uti pun menghampiri mbak Tata untuk menggoda.
"Ciyeee, ngapain tuh... Asik banget", goda Uti.
"Ganggu aja, lagi asik nih"
"Hih, sampe segitunya. Chatting sama siapa sih? Kasih tahu dong!"
"Kepo banget, hus pergi sana!!", usir mbak Tata pada Uti.
Uti pun segera pergi ke kamar mandi meninggalkan mbak Tata. Selesai dari kamar mandi, Uti menuju sofa dan mencari ponselnya. Namun,  setelah dicari-cari ponselnya tak kunjung ketemu. 
"Mbak Ta, handphoneku mana ya?", tanya Uti pada mbak Tata dengan terus mencari ponselnya. 
Saat itu juga Uti tersadar, apa mungkin mbak Tata menggunakan ponselnya dan jail membalas pesan dari Erlangga? Karena ponsel Uti dan mbak Tata sama, jadi tadi Uti tidak sadar bahwa mbak Tata menggunakan ponsel miliknya. Uti segera berlari menuju mbak Tata.
"Mbak, ini punyaku kan?", ucap Uti sambil merebut ponsel yang dipegang mbak Tata.
"Heh, main rebut aja. Itu punya mbak"
"Trus punyaku mana? Tadi aku taro di sofa"
"Di atas tv tuh, tadi hampir aja mbak dudukin, jadi mbak taro aja di atas tv"
Dengan segera Uti mengembalikan ponsel mbak Tata dan berlari mengambil ponsel miliknya. Saat dia buka ponselnya, didapatinya 3 pesan dan 2 panggilan tak terjawab. Segera dia buka dari siapakah panggilan tersebut. Dan setelah dia buka, ternyata panggilan itu berasal dari ayahnya. Lalu dia segera beralih ke bagian pesan. Dan didapatinya pesan dari ayahnya. Dia pun segera membalas pesan ayahnya dengan sedikit kecewa, karena dia pikir pesan tadi berasal dari Erlangga. Lalu dia berpikir sejenak, mana mungkin seorang Erlangga mau mengirim pesan untuk dirinya. Uti kembali lesu dan segera menuju kamar.
Haripun telah berganti. Hari ini hari Sabtu, hari dimana libur dari rutinitas yang dilakukan sehari-hari. Uti yang tertidur semalaman setelah menonton film, akhirnya bangun lebih siang dari hari biasanya. Dilihatnya jam, dan jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Sesegera mungkin Uti merapikan kamarnya. Saat dia mengecek ponselnya, terdapat sebuah pesan. Dibukalah pesan tersebut, dan ternyata pesan tersebut berasal dari Erlangga. Bukan main senangnya hati Uti, setelah mengetahui bahwa si pengirim pesan adalah Erlangga. 
"Kamu Taluti kan? Soal kemarin, gimana kalo kamu traktir aku di cafe Brno?", isi pesan yang ditulis oleh Erlangga.
Ketika membaca pesan dari Erlangga, secara tak sengaja Uti berteriak histeris.
"Aaaarhhhhhkkkk, omg, omg, omg..."
Saat dia melihat pesan Erlangga, dia baru sadar jika pesan itu ternyata sudah dikirim pukul setengah 5 pagi, sedangkan dia baru membuka pukul 7 pagi. Uti begitu tak enak hati karena tak kunjung membalas pesan Erlangga. Dengan segera Uti langsung membalas pesan Erlangga.
"Iya, ini aku Taluti. Oh, ke cafe Brno, iya aku dateng. Jam berapa ya?", tulis Uti.
Dengan sabar Uti terus menunggu balasan pesan dari Erlangga. Namun, setelah 2 jam, pesan itu tak kunjung dibalas, bahkan dilihat saja belum. Uti khawatir jika Erlangga marah karena tadi pesannya tak kunjung Uti balas. Detik ke detik Uti tetap menunggu, sampai berubah ke menit dan akhirnya berhenti di jam berganti jam.
Pukul setengah 1 siang, setelah makan, Uti iseng melihat ponsel. Dan kembali ceria raut wajahnya, karena dia menerima sebuah pesan dari Erlangga.
"Jam 7 malem ya", isi pesan singkat Erlangga.
Girang bukan main yang dirasakan Uti. Dia segera membalas pesan Erlangga dan segera menyiapkan baju untuk nanti malam.
"Iya, nanti aku kesana jam 7 malem", tulis Uti. (bersambung....)

Komentar

Posting Komentar